Mandi Puasa Ramadhan Bukan Balimau
Oleh : Toni Nasrianto,S.HI
(Kepala KUA Ranah Pesisir)
Bulan Ramadhan adalah waktu yang dinanti-nantikan oleh umat Islam di seluruh dunia. Untuk menyambutnya dengan hati yang bersih dan jiwa yang suci, salah satu amalan yang dapat dilakukan adalah mandi sebelum puasa Ramadhan. Mandi ini bertujuan untuk membersihkan diri secara fisik dan spiritual, sehingga ibadah puasa dapat dijalankan dengan lebih khusyuk.
Salah satu amalan yang mesti dilakukan oleh kaum Muslimin di bulan Ramadhan adalah mandi puasa Ramadhan. Mandi yang dimaksud di sini adalah mandi sunnah yang dapat dilakukan setiap malam Ramadhan. Hal ini sekaligus menegaskan bahwa tidak ada amalan mandi wajib khusus di bulan Ramadhan atau menjelang Ramadhan.
Karena mandi wajib hanya untuk orang yang berhadats besar yang hendak melaksanakan ibadah dan memang disyaratkan dalam keadaan suci, seperti shalat lima waktu, tawaf, dan ibadah-ibadah yang lain, sedangkan puasa tidak termasuk.
Terkait dengan konsep "Balimau" adalah tradisi mandi yang menggunakan jeruk nipis dan berkembang di kalangan masyarakat Minangkabau.
Tradisi ini biasanya dilakukan pada kawasan tertentu yang memiliki aliran sungai dan tempat pemandian. Balimau telah berlangsung selama berabat abat dan diwariskan turun temurun.
Sebenarnya Balimau adalah satu kata yang mengandung satu kegiatan bernuansa tradisi yang di Minangkabau, baik pada masa dahulu maupun sekarang. Kegiatan ini dilakukan satu hari menjelang datangnya bulan Ramadhan. Dalam terminologi orang Minang, Balimau adalah mandi mensucikan diri (mandi wajib, mandi junub) dengan limau (jeruk nipis).
Sementara ramuan yang digunakan untuk Balimau mencampur ramuan alami yang beraroma wangi dari daun pandan wangi, bunga kenanga, dan akar tanaman gambelu, yang direndam dalam air yang tidak terlalu panas. Kemudian, ramuan ini disiram ke kepala, dan dilanjutkan ke seluruh badan.
Sebenarnya tradisi Balimau bertujuan untuk kebersihan hati dan juga kebersihan raga atau badan, dalam rangka mempersiapkan diri untuk melaksanakan ibadah puasa. Tradisi Balimau diharapkan adalah untuk mempererat tali silaturahmi dan mensucikan diri sejalan dengan ajaran agama Islam untuk memasuki bulan suci Ramadhan.
Tradisi balimau merupakan kebiasaan yang berakar sebelum masuknya Islam. Namun, dari sudut pandang agama, tradisi Balimau tidak dianggap sebagai bagian dari ajaran Islam dalam menyambut Ramadhan.
Balimau seharusnya tidak dilakukan oleh masyarakat menjelang Ramadhan dengan pergi ke suatau tempat, karena membersihkan diri dapat dilakukan di rumah, dan tradisi ini sebaiknya ditinggalkan.
Selain itu, momen ini sering dimanfaatkan untuk kegiatan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai agama, seperti mandi beramai-ramai di sungai yang melibatkan laki-laki dan perempuan ini sudah salah dalam syariat Islam, bukannya bersih malah bertambah dosa sebelum bulan suci masuk.
Maka menjelang bulan suci Ramadhan, umat Islam dianjurkan untuk mempersiapkan diri secara fisik dan spiritual. Salah satu bentuk persiapan yang dapat dilakukan adalah mandi sunnah sebelum menjalankan ibadah puasa. Mandi ini bertujuan untuk mensucikan diri agar lebih siap dalam menjalankan ibadah di bulan yang penuh berkah.
Sebagaimana dijelaskan dalam Kitab Al-Mausu’atul Fiqhiyyah (16/55), bahwa
أَنْ يَغْتَسِل. فَإِنَّ عَائِشَةَ وَأُمَّ سَلَمَةَ قَالَتَا : نَشْهَدُ عَلَى رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أِنْ كَانَ لِيُصْبِحُ جُنُبًا مِنْ غَيْرِ احْتِلاَمٍ ثُمَّ يَغْتَسِل ثُمَّ يَصُومُ
Artinya: Orang yang memiliki hadats junub (hadats besar), sah melaksanakan puasa meski ia belum sempat mandi besar sampai pagi puasa. Siti Aisyah dan Ummu Salamah pernah berkata, Kami melihat Nabi Muhammad SAW pagi-pagi masih memiliki hadats junub yang bukan karena mimpi basah, lalu beliau mandi besar dan tetap melaksanakan puasa.
Terkait mandi sunnah di malam Ramadhan. Mandi ini merupakan salah satu anjuran yang hendaknya dilakukan umat Islam pada malam-malam bulan Ramadhan. Dalam kitab Hasyiyah al-Bajuri (1/81) karya Syekh Ibrahim al-Bajuri menjelaskan terkait kesunnahan mandi di malam Ramadhan.
Berikut niat mandi sunnah di malam bulan Ramadhan:
نَوَيْتُ أَدَاءَ اْلغُسْلِ اْلمَسْنُوْنِ لِيْ فِيْ هَذِهِ اللَّيْلَةِ مِنْ رَمَضَانَ لله تَعَالَى
Artinya: Aku berniat menjalankan mandi yang disunnahkan kepadaku pada malam ini di bulan Ramadhan karena Allah Ta’ala.
Tata Cara Mandi Sunnah Sebelum Puasa. Mandi sebelum menjalankan ibadah puasa dapat dilakukan dengan mengikuti tata cara yang dianjurkan dalam Islam, yaitu:
1. Membaca niat dalam hati untuk mandi sunnah sebelum berpuasa.
2. Mencuci tangan sebanyak tiga kali agar bersih sebelum mengambil air.
3. Membersihkan area kemaluan dan bagian tubuh lainnya yang dianggap kotor dan berwudhu seperti tata cara wudhu sebelum shalat.
4. Menyiram kepala tiga kali, memastikan air merata hingga ke kulit kepala.
5. Menyiram seluruh tubuh, dimulai dari bagian kanan lalu kiri.
Mandi sebelum puasa Ramadhan menjadi salah satu cara untuk bersuci dan mempersiapkan diri menyambut bulan suci dengan kondisi yang lebih bersih dan segar. Meskipun tidak wajib, mandi ini memiliki nilai sunnah yang baik untuk dilakukan. Dengan niat yang tulus dan tata cara yang benar, ibadah puasa di bulan Ramadhan dapat dijalankan dengan lebih nyaman dan penuh keberkahan.
Dengan mengikuti tata cara di atas, diharapkan mandi sebelum puasa Ramadhan dapat dilakukan dengan sempurna, sehingga kita benar-benar bersih secara fisik dan siap menjalankan ibadah puasa dengan khusyuk.
Waktu yang tepat untuk melaksanakan mandi sebelum puasa Ramadhan adalah sebelum fajar menyingsing, yaitu sebelum waktu Subuh tiba. Hal ini bertujuan agar kita memasuki waktu puasa dalam keadaan suci dan bersih. Namun, jika tidak memungkinkan, mandi dapat dilakukan pada malam hari sebelum tidur, asalkan tidak melakukan hal-hal yang membatalkan kesucian setelahnya.
Selain itu, bagi mereka yang memiliki hadats besar, seperti setelah berhubungan suami istri atau setelah haid bagi wanita, diwajibkan untuk melakukan mandi wajib sebelum memulai puasa. Hal ini penting agar ibadah puasa yang dijalankan sah dan diterima oleh Allah SWT.
setelah keluar kamar mandi bisa melanjutkan membaca doa setelah mandi wajib seperti berikut:
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ اللَّهُمَّ اجْعَلْنِى مِنَ التَّوَّابِينَ وَاجْعَلْنِى مِنَ الْمُتَطَهِّرِينَ
Asyhadu an laa ilaha illallahu wahdahu laa syarika lahu, wa asyhadu anna Muhammadan abduhu wa Rasuluhu, allahumma-jalni minattawwabina, waj-alni minal-mutathahirrina.
Artinya: "Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah Yang Esa, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu hamba-Nya dan utusan-Nya. Ya Allah, jadikanlah aku termasuk orang-orang yang bertobat dan jadikanlah aku pula termasuk orang-orang yang selalu menyucikan diri."
Itulah bacaan niat dan tata cara mandi wajib sebelum puasa Ramadhan. Semoga kita mendapatkan keberkahan dan ampunan dari Allah Swt dalam.
--------------------------
---------------
Referensi
Syekh Ibrahim al-Bajuri, kitab Hasyiyah al-Bajuri, Dar al-Hazm
Syaikh Wahbah Al-Zuhaili, kitab Al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu,Dar al- Al Hazm
Syekh Husain Bin Audah Awaysasyah, kitab Al-Mausuah al-Fiqhiyyah al-Muyassarah,
Dar al-Hazm
Sykeh Ibnu An Najjar Ad Dimyathiy Mausu'ah Fiqh ala Madzahib Arba'ah, Dar Al Hazm