Ranah Pesisir, Humas -- Jelang Ramadhan 1446 H, mewakili Kepala KUA Kecamatan Ranah Pesisir, Penyuluh Agama Islam, Zarmon Tuanku Malin Bagindo Sutan penuhi undangan ceramah agama di Masjid Nurul Islam, Kamis (27/2).
Acara yang diselenggarakan oleh Takmir Masjid dengan tujuan untuk mengajak masyarakat merasakan kehangatan dan kebersamaan dalam menjalankan ibadah sekaligus memberikan pelayanan prima mengenai keagamaan di masyarakat.
Kedatangan Penyuluh Agama Islam, Zarmon tersebut diterima sangat baik oleh jamaah Masjid Nurul Islam. Terlebih ketika Zarmon yang akrab disapa jamaah langsung memberikan tausiyah tentang, Keindahan Ramadhan dengan Saling Menghargai Sesama.
“Ramadhan harus dimaknai sebagai bulan yang penuh rahmat dan kasih sayang”, katanya kepada jamaah.
Ia juga menjelaskan, berpuasa bukan sekadar menahan diri dari makan, minum, dan semua hal yang dapat membatalkannya. Akan tetapi hakikat puasa juga melatih kepekaan terhadap kesulitan orang lain, melatih empati kepada orang yang belum beruntung, dan menghargai nilai-nilai kemanusiaan.
“Mestinya melalui ibadah puasa ini kita mampu mengambil hikmah tertinggi. Atas dasar keimanan kita, kita menegakan keyakinan bahwa Allah maha mengetahui. Bulan suci Ramadhan bukan hanya melaksanakan puasa untuk menahan lapar, haus, dan hawa nafsu. Tetapi puasa sebagai ajang penyucian diri dan pembersih jiwa” jelasnya.
Kemudian lanjutnya, puasa juga menjernihkan dari pikiran-pikiran yang buruk dan akhlak yang rendah. Tidak sekedar diartikan secara harfiah hanya menjaga untuk menahan lapar, haus, dan hawa nafsu.
Zarmon juga menjelaskan, puasa merupakan ajang untuk menjaga integritas, baik dalam taat melaksanakan ibadah kepada Allah, maupun integritas terhadap sesama manusia.
“Mestinya melalui ibadah puasa ini kita mampu mengambil hikmah tertinggi. Atas dasar keimanan kita, kita menegakan keyakinan bahwa Allah maha mengetahui. Kita jadikan ibadah setiap bulan Ramadan ini sebagai upaya untuk terus menjaga integritas, salah satu karakter yang akhir-akhir ini mulai hilang. Mudah diucapkan tetapi sulit diterapkan,” lanjutnya.
Menurutnya ada beberapa hal yang membuat umat muslim gagal dalam mendapatkan kemuliaan di bulan Ramadhan.
Pertama, kurang melakukan persiapan di bulan Sya’ban, tidak tumbuh keinginan melatih bangun malam dengan shalat tahajjud. Begitupun tidak melakukan puasa sunnah Syaban sebagaimana telah disunnahkan Rasulullah SAW.
Persiapan yang lain juga meminta maaf kepada kedua orang tua, meminta maaf kepada suami atau istri dan tetangga, dan perbanyak istigfar untuk selalu membersihkan diri dan hati.
“Karena pada dasarnya puasa merupakan media untuk pembersihan hati, jika segumpal daging dalam tubuh rusak, maka rusaklah seluruh tubuh itu. Oleh sebab itu, kita perlu selalu menjaga kebersihan hati," ungkapnya.
Kedua, gampang mengulur salat fardhu, orang yang berpuasa tetapi melalaikan salat fardhu, maka dia adalah orang yang sangat merugi.
"Seperti yang disampaikan dalam Al-Qur’an surat Maryam ayat 59, Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, maka kelak mereka akan menemui kesesatan kecuali orang-orang yang bertaubat dan beramal shaleh," terang Zarmon.
Ketiga, malas menjalankan ibadah-ibadah sunnah, termasuk di dalamnya menjalankan ibadah salat malam, mendekatkan diri kepada Allah dengan melaksanakan ibadah-ibadah sunnah merupakan ciri orang yang shaleh.
“Kita mesti memanfaatkan kesempatan yang sangat baik ini karena kita tidak pernah tahu apakah tahun depan kita masih diberikan kesempatan oleh Allah untuk berjumpa dengan bulan yang penuh nikmat ini,” ujarnya.
Keempat, kikir dan rakus pada harta benda, takut rugi jika mengeluarkan banyak Infak dan sedekah adalah tandanya.
“Cinta dunia serta bergelimang kemewahan, sering membuat manusia lupa akan tujuan hidup sesungguhnya, yaitu mendekatkan kepada Allah SWT, akan menguatkan sifat utama kemanusiaan,” tuturnya.
Kelima, malas membaca Al-Qur’an. Ramadan juga disebut Syahrul Qur’an, bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran. Orang-orang shalih di masa lalu menghabiskan waktunya baik siang maupun malam Ramadan untuk membaca Al-Quran.
“Ramadan adalah saat yang tepat untuk menimba dan menggali sebanyak mungkin kemuliaan Al-Quran sebagai petunjuk hidup. Kebiasaan baik ini harus nampak berlanjut setelah Ramadan pergi, sebagai tanda keberhasilan latihan di bulan suci,” imbuhnya.
Keenam, gemar bicara sia-sia dan dusta, orang yang berpuasa menahan haus dan lapar tetapi tidak meninggalkan ucapan dusta, maka sia-sia puasa yang dilakukannya. Ramadan adalah peluang bagi semua untuk mengatur dan melatih lidah supaya senantiasa berkata yang baik-baik.
“Puasa ini bukanlah hanya menahan diri dari makan dan minum saja, akan tetapi juga bisa tidak berdusta, dari perbuatan yang salah dan tutur kata yang sia-sia. Dalam kontek kekinian, hindari dari keikutsertaan penyebaran hoax, karena akan merugikan kita sendiri. Selain itu akan merusak tali silaturahmi antar umat dan bahkan bisa merusak persatuan,” jelasnya.
Ketujuh, memutuskan tali silaturrahim. Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa memutuskan kekeluargaan di bulan suci jni, Allah akan memutuskan rahmat-Nya pada hari ia berjumpa dengan-Nya“.
Dikatakannya juga bahwa, puasa dapat melatih diri, mendidik diri untuk menumbuhkan jiwa kasih sayang dan tali cinta. Orang yang berpuasa jiwanya dibersihkan dari kekerasan hati dan kesombongan, diganti dengan perangai yang lembut, halus dan tawadhu.
Kedelapan, orang yang tidak mencintai kaum dhuafa. Bulan Ramadan merupakan bulan kasih sayang. Di bulan ini Allah melimpahi hamba-hamba-Nya dengan kasih sayang yang ekstra.
"Karena itu, mari kita jadikan Ramadhan ini sebagai momentum untuk menanam benih kasih sayang terhadap orang-orang yang paling lemah di kalangan masyarakat, seperti faqir miskin, anak-anak yatim dan mereka yang hidup dalam kekurangan. Rasa cinta kita terhadap mereka seharusnya bertambah. Jika cinta jenis ini tidak bertambah sesudah bulan suci ini, berarti kita perlu segera instrospeksi,” tutupnya.(Zarmon/Zn)